| Masjid agung | ||
| Di sebelah barat alun-alun utara ada sebuah masjid yang diberi nama Masjid Agung Surokarto Hadiningrat. | ||
| ||
| Bangunan Masjid Agung terdiri dari : | ||
| ||
| ||
| Di podium masjid terdapat tulisan “rukuning Islam iku limang prakara”, di sebelahnya lagi ada ukiran kayu dengan kaligrafi yang dibuat pada jaman Pakubuwono III (tahun Wawu 1769). | ||
Sunday, May 13, 2007
Saturday, May 12, 2007
KERAJAAN MATARAM ISLAM
MENELUSURI JEJAK-JEJAK SITUS KERAJAAN MATARAM ISLAM
Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri
Pajimatan Imogiri merupakan makam raja-raja Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) yang terletak 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta melalui Jalan Pramuka - Imogiri. Di kawasan itu bagi warga masyarakat disediakan lapangan parkir yang terletak di sebelah barat gerbang masuk sebelum naik tangga. Sedangkan bagi kerabat istana dan tamu VIP disediakan parkir di bagian atas mendekati makam sehingga tidak perlu meniti tangga. Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga secara benar (jumlahnya ada 345 anak tangga) maka cita-citanya akan terkabul. Tata cara memasuki makam di tempat itu sama dengan di Astana Kotagede, dimana setiap pengunjung diharuskan memakai pakaian tradisonil Mataram, pria harus mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna hitam atau biru tua bergaris-garis, tanpa memakai keris, atau hanya memakai kain/jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita harus mengenakan kemben.
Perlu diketahui bahwa selama berziarah pengunjung tidak diperkenankan memakai perhiasan. Bagi para peziarah yang tidak mempersiapkan pakaian dimaksud dari rumah bisa menyewa pada abdi dalem sebelum memasuki komplek makam. Bagi kerabat istana khususnya putra-putri raja ada peraturan tersendiri, pria memakai beskap tanpa keris, puteri dewasa mengenakan kebaya dengan ukel tekuk, sedangkan puteri yang masih kecil memakai sabuk wolo ukel konde.
Menurut buku Riwayat Pasarean Imogiri Mataram, Makam Imogiri memang sejak awal telah disiapkan oleh Sultan Agung dengan susah payah. Diceritakan Sultan Agung yang sakti itu setiap Jumat sholat di Mekkah, dan akhirnya ia merasa tertarik untuk dimakamkan di Mekkah. Namun karena berbagai alasan keinginan tersebut ditolak dengan halus oleh Pejabat Agama di Mekkah, sebagai gantinya ia memperoleh segenggam pasir dari Mekkah. Sultan Agung disarankan untuk melempar pasir tersebut ke tanah Jawa, dimana pasir itu jatuh maka di tempat itulah yang akan menjadi makam Sultan Agung. Pasir tersebut jatuh di Giriloyo, tetapi di sana Pamannya, Gusti Pangeran Juminah (Sultan Cirebon) telah menunggu dan meminta untuk dimakamkan di tempat itu. Sultan Agung marah dan meminta Sultan Cirebon untuk segera meninggal, maka wafatlah ia. Selanjutnya pasir tersebut dilemparkan kembali oleh Sultan Agung dan jatuh di Pegunungan Merak yang kini menjadi makam Imogiri.
Raja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan dari Kasultanan Yogyakarta antara lain : Hamengku Buwana I s/d Hamengku Buwana IX, kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede. (Lihat: Skema Makam Raja-raja Mataram di Imogiri).
Skema
Makam Raja-raja Imogiri. (terlampir untuk di scan)
MENITI TANGGA: Untuk mencapai makam para Raja Mataram peziarah harus meniti tangga naik sebanyak 345 buah, mereka percaya kalau berhasil menghitung dengan tepat maka permohonan yang disampaikan kepada Raja akan dikabulkan.
MASJID MAKAM IMOGIRI: Segera setelah masuk ke komplek makam Imogiri peziarah akan menjumpai masjid yang dipakai abdi dalem dan pengunjung untuk sholat.
GAPURA SUPIT URANG: Merupakan gerbang masuk ke komplek makam, bentuknya menyerupai gapura di Bali, di samping masing-masing kaki tangga menuju ke gapura terdapat pendopo tempat para peziarah menantikan saat gerbang besar dibuka.
GENTHONG: Di sebelah dalam gapura Supit Urang, masih ada sebuah gerbang besar yang bangunannya bergaya zaman peralihan Hindu Jawa ke Islam, di dekatnya terdapat beberapa genthong air besar, dua buah diantaranya di papan nama bertulisakan: Kyai Mendung dari Ngerum dan Nyai Siem dari Siam.
GERBANG KOMPLEK MAKAM RAJA SURAKARTA: Inilah pintu masuk ke komplek Makam raja-raja Kasunanan Surakarta.
GERBANG KOMPLEK MAKAM RAJA YOGYAKARTA: Inilah pintu masuk ke komplek Makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta.
KI AGENG SELO

| Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg). Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya . Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa . Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35 - 36 ) . Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata : Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ). Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut : Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan. Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah. Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde . … Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun - turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ). Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kawin dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) . Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja - raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat . Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang . Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi . Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut . Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam - makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam - makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata - rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah. |
Monday, May 7, 2007

MAKANAN dari Solo banyak juga yang unggul dan diminati para pendatang atau wisatawan lokal yang singgah di kota ini dalam perjalanan.
Makanannya berselera lembut dan tidak tajam bumbunya. Contohnya adalah timlo solo, nasi liwet, dan tengkleng yang setara dengan gulai di Sumatera, namun bumbu rempahnya tidak tajam.
Makanan manis banyak digemari seperti serabi solo yang terkenal sehingga pedagang serabi solo sudah berani membuka usaha di Jakarta.
Selain itu, juga banyak industri makanan untuk oleh-oleh khas daerah Solo, seperti abon, serundeng, aneka keripik, intip goreng, dan lain-lain.
Makanan jajanan di Solo masih relatif murah, baik makanan oleh-oleh yang jenisnya sangat banyak ataupun di restoran dan rumah makan. Jadi, dengan harga sesuai, kita dapat puas menikmati. Jangan lupa singgah mencari makanan kalau melewati Solo.
Sate Banaran
sate yang terkenal di daerah solo adalah sate banaran sragen yang letaknya 45 KM sebelah timur solo.di daerah banaran ini banyak di jumpai restoran2 sate kambing sepanjang 1 km.sate banaran terkenal karena mempunyai rasa khas yang tak di temui di daerah lain.adapun restoran sate yang paling terkenal adalah SARI RASA yang menyajikan rasa dan menu2 tradisional solo
Nasi Liwet banyak dijumpai di daerah Nonongan dan Solo Baru, depan Atrium. Seperti halnya nasi gudeg Jogja, nasi liwet ini menjadi makanan khas Solo. Bahannya adalah beras yang dimasak dengan tambahan santan dan kaldu ayam, membuat nasi terasa gurih dan lezat, disajikan dengan tambahan telur rebus, suwiran ayam, kumut (kuah santan yang dikentalkan), sayur jipan yang dimasak pedas (disambal goreng). Cocok pula ditambah usus ayam rebus, ati, atau ampela rebus. Disini nasi liwet tidak disajikan dengan piring, melainkan menggunakan daun pisang yang dipincuk.
Salah satu oleh-oleh khas Solo adalah Abon Sapi, abon yang terbuat dari daging sapi asli dengan rasa manis dan halus cacahannya.
Intip yaitu kerak nasi, biasanya berbentuk bulat, terbuat dari kerak nasi yang digoreng kering, dengan diatasnya ditambah gula merah untuk rasa manis dan untuk rasa asin cukup ditambah gula sewaktu diolah.
Kue yang satu ini memang tak lekang oleh masa. Beda dengan serabi biasa yang dilengkapi saus santan dan gula merah, serabi solo tak memakai saus karena rasanya yang sudah manis. Aroma dan harumnya benar-benar menggelitik selera. Tekstur yang lembut rasanya yang manis gurih sangat menggugah selera. Membuatnya pun cukup mudah. Bahan dasarnya adalah tepung beras dan tepung terigu yang digoreng diatas wajan kecil khusus, dan ditambah santan dan pemanis lainnya tergantung dari rasanya. Serabi yang terkenal di Solo yaitu serabi Notosuman dengan 3 rasa : putih (santan), coklat, dan pisang.
Tengkleng merupakan salah satu makanan yang diminati di Solo, semacam sup, berbahan dasar daging kambing. Bumbu utamanya adalah santan, dimasak / digulai dengan bumbu-bumbu tradisional lainnya seperti jahe, kunyit, lengkuas, ketumbar, gula merah, bawang merah, bawang putih, serta bumbu-bumbu lainnya. Disajikan panas dan berkuah
Timlo Solo banyak dijumpai di daerah sekitar Pasar Gedhe. Semacam soto, tetapi dengan bahan-bahan yang berbeda tentunya. Disajikan panas dengan kuah dari kaldu ayam, isinya irisan gayam (kulit lumpia), telur kecap, rempelo ati, dan potongan daging ayam, ditaburi bawang goreng.
TAWANGMANGU
Tawangmangu, merupakan tempat wisata daerah pegunungan di kota Solo yang letaknya dekat di lereng Gunung Merapi. Seperti tempat wisata Kaliurang di Yogyakarta, tawangmangu memiliki udara yang dingin, berada pada tempat yang tinggi sehingga sering berkabut, diwarnai dengan banyaknya penginapan berupa villa atau wisma serta rumah makan, restoran, atau pedagang sate keliling yang menjadi makanan favorit di tawangmangu ini. Dapat ditempuh selama 1 jam dari kota Solo. Di
Tawangmangu sendiri ada tempat wisata yaitu Grojogan Sewu dengan tinggi sekitar 1000m.
PASAR KLEWER
Pasar Klewer merupakan pusat pasar dimana sebagian besar aktivitas warga Solo berpusat disana. Dari pakaian atau tekstil yang mendominasi, makanan, sampai ke pernak pernik perhiasan dijual disana. Letaknya berdekatan dengan Keraton Solo dan alun-alun, sehingga hampir setiap hari daerah ini tak pernah sepi dari hiruk pikuknya jalan.
Semenjak dibangun pada 1970, perkembangan Pasar Klewer Solo bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Melesat untuk kemudian menjadi pasar tekstil yang besar. Bahkan, mungkin salah satu yang terbesar di Indonesia.Karena itu tak mengherankan bila kini, menurut data dari Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) dan Dinas Pasar Klewer, jumlah pedagang di pasar tersebut adalah 1.467 pedagang. Hebatnya lagi, dari jumlah pedagang sebanyak itu, uang yang berputar setiap harinya (transaksi berjalan) Rp 5 miliar - Rp 6 miliar.
Sementara per tahunnya, pasar tersebut menghasilkan pendapatan dari retribusi Rp 3 miliar. Jumlah yang cukup besar, karena jika dikalkulasi, jumlah pendapatan retribusi itu telah memenuhi hampir 5% RAPBD Kota Surakarta 2004 dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 53.546.938.996.Bukan hanya itu, selain mendukung perekonomian daerah, keterkenalan Klewer sebagai pusat perdagangan tekstil juga turut mendukung dunia pariwisata di Kota Solo. Terbukti, sampai sekarang pasar tersebut sering dijadikan alternatif untuk kunjungan para wisatawan.
Tentang hal tersebut, mantan Ketua HPPK periode 1998-2003 Hafids Safari malah mengatakannya sebagai three in one ketika mengibaratkankeberadaan dan kedekatan area antara Keraton Surakarta Hadiningrat, Masjid Agung dan Pasar Klewer. ''Dalam dunia pariwisata di Solo, saya memandang seperti itu. Artinya antara keraton, Masjid Agung dan Pasar Klewer itu sudah menjadi satu kesatuan utuh yang kemudian membuat semacam garis kunjungan wisata. Itulah yang saya maksud dengan three in one,''
UANG DAMAI
Suatu hari arjo jegeg mengajak slenthem main ke rumah pritiyem, temannya. Di tengah perjalanan, di sebuah perempatan terlihat lampu bangjo sedang menyala kuning, pertanda akan berganti merah.
Karena nanggung,arjo jegeg malah ngegas motornya semakin kencang untuk mengejar jangan sampai lampu merah keburu menyala. Tapi sial, pas posisi ngebut itulah tiba-tiba mak byarrr! lampu merah menyala. Karena tak mungkin berhenti, mereka berdua langsung bablas nrabas lampu bangjo.
Entah dari arah mana datangnya, tiba-tiba saja di samping motor sudah arjo jegeg ada seorang polisi bertampang sangar nyalip arjo jegeg sambil tangannya ngawe-awe meminta arjo jegeg menghentikan laju motornya.
”Selamat siang, Mas. Tolong perlihatkan surat-suratnya” sapa Pak Polisi setelah mereka berhenti.
arjo jegeg pun memberikan SIM dan STNK-nya.
”Saya tadi melihat Mas melanggar rambu lalu lintas... Bla bla bla...” kata Pak Polisi menceramahi.
Setelah acara eyel-mengeyel dan tawar menawar, akhirnya arjo jegeg boleh melanjutkan perjalanan dengan membayar ”uang damai” Rp 30.000.
Tiba di rumah pritiyem, mereka berdua menceritakan kejadian tersebut, bahkan arjo jegeg sempat ngelek-elek Pak Polisi segala. pritiyem cuma bisa senyam-senyum mendengar cerita itu sambil menyalahkan arjo jegeg.
Sewaktu mereka berdua akan pulang, tiba-tiba di halaman rumah pritiyem terdengar deru sepeda motor. Setelah yang empunya sepeda motor masuk ke dalam rumah, mak prempeng, muka arjo jegeg dan slenthem tiba-tiba pucet sak nalika.
”Kenalkan jo, them, ini bapakku...” ujar pritiyem.
Ternyata Saudara-saudara, yang diperkenalkan kepada mereka tak lain dan tak bukan adalah Pak Polisi yang menilang mereka tadi.
Untuk menjaga stabilitas suasana dan menahan gejolak hatinya, arjo jegeg dan slenthem buru-buru pamit pulang sambil menyalami pritiyem serta bapaknya sambil pringas-pringis elik ngana kae.
Di sepanjang perjalanan pulang, arjo jegeg dan slenthem ngguyu ngekek ora entek-entek.
Keesokan harinya di sekolahan, uang arjo jegeg yang disita bapak pritiyem kemarin ternyata dikembalikan Rp 50.000 oleh pritiyem.
”Polisi itu ternyata baik ya them. Lha ini, uangku dikembalikan, malah ditambahi,” kata arjo jegeg
”Mulane aja ngelek-elek pulisi neng ngarepe anak pulisi,” goda slenthem.
(WONG SOLO)
